Ulumul Qur’an

ULUMUL QUR’AN DAN PERKEMBANGANNYA

 

I. PENGERTIAN ULUMUL QUR’AN

Kata ‘Uluum jamak dari kata ‘ilmu. ‘Ilmu berarti al-fahmu wal-idraak (“paham dan menguasai”). Kemudian arti kata ini berubah menjadi masalah-masalah yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah. Jadi yang dimaksud dengan ‘ULUUMUL QUR’AN’ ialah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an dari segi asbaabun nuzuul, al-nasikh wal mansukh, al-muhkam wal mutasyaabih, al-Makki wal Madani, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan al-Qur’an. Terkadang ilmu ini dinamakan juga USUULUT TAFSIIR (“dasar-dasar tafsir”), karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang mufasir sebagai sandaran dalam menafsirkan al-Qur’an.

Terdapat berbagai definisi tentang yang dimaksud dengan Ulumul Qur’an ( ilmu-ilmu al-Qur’an). Contohnya yaitu: Imam al-Zarqani dalam kitabnya manahil al-irfan fi ‘ulum al-Qur’an merumuskan ‘Ulumul Qur’an sebagai berikut: “Pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari segi turunnya, urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, mukjizatnya, nasikh-mansukh-nya, dan bantahan terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan keragu-raguan terhadap al-Qur’an dan sebagainya”.

Imam Al-Suyuthi dalam kitab Itmamu al-dirayah mengatakan, ‘Ulumul Qur’an adalah: “ ilmu yang membahas tentang keadaan al-Qur’an dari segi turunnya, sanadnya, adabnya, makna – maknanya, baik yang berhubungan dengan lafal-lafalnya maupun yang berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya”.
II. PERKEMBANGAN ‘ULUMUL QUR’AN

‘Ulumul Qur’an itu sendiri bermula dari Rasulullah SAW, tetapi saat itu Rasulullah SAW tidak mengizinkan mereka menuliskan sesuatu dari beliau selain al-Qur’an, karena beliau khawatir al-Qur’an akan tercampur dengan yang lain. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-khudri, bahwa Rasulullah SAW berkata :
“Janganlah kamu tulis dari aku, barang siapa yang menuliskan dari aku selain al-Qur’an, hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang dariku, dan itu tiada halangan baginya. Dan barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku, ia akan menempati tempatnya di dalam neraka.”
Sekalipun sesudah itu, Rasulullah SAW baru mengizinkan kepada sebagian sahabat untuk menulis hadist, tetapi hal yang berhubungan dengan al-Qur’an. Para sahabat menulis tetap didasarkan pada riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasulullah SAW, di masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar r.a.

Kemudian datang masa kekhalifahan Usman r.a dan keadaan menghendaki untuk menyatukan kaum muslimin pada satu mushaf. Dan hal itu pun terlaksana, mushaf itu disebut mushaf imam. Salinan mushaf tersebut juga dikirimkan ke beberapa propinsi, penulisan mushaf itu dinamakan Rasmul ‘Usmani yaitu dinisbatkan kepada Usman r.a. Dan ini dianggap sebagai permulaan dari ‘Ilmu Rasm al-Qur’an. Kemudian datang masa kekhalifahan Ali ra, atas perintahnya, Abul Aswad al-Du’ali meletakkan kaidah-kaidah nahwu, cara pengucapan yang tepat, baku, dan memberikan ketentuan harakat pada al-Qur’an. Ini juga dianggap sebagai permulaan ‘Ilmu I’rabil Qur’an. Para sahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna al-Qur’an dan penafsiran ayat-ayatnya yang berbeda-beda dalam memahaminya karena adanya perbedaan lama dan tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah SAW. Hal yang demikian diteruskan oleh murid-murid mereka, yaitu para tabi’in.

Diantara para mufasir yang termasyhur dari para sahabat adalah empat orang khalifah, kemudian Ibn Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair. Banyak riwayat mengenai tafsir yang diambil dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Mas’ud, dan Ubai bin Ka’ab. Dan apa yang diriwayatkan dari mereka tidak berarti sudah merupakan tafsir al-Qur’an yang sempurna. Tetapi terbatas hanya pada makna beberapa ayat dengan penafsiran tentang apa yang masih samar dan penjelasan apa yang masih global. Mengenai para tabi’in, di antara mereka ada satu kelompok terkenal yang mengambil ilmu ini dari para sahabat disamping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.

Diantara murid-murid Ibnu Abbas di Mekkah yang terkenal ialah Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah bekas sahaya (maula) Ibn Abbas, Tawus bin Kisan al-Yamani dan Ataa’ bin Abi Raba’ah. Dan terkenal pula diantara murid-murid Ubai bin Ka’ab di Medinah: Zaid bin Aslam, Abul ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazi.

Dari murid-murid Abdullah bin Mas’ud di Irak yang terkenal: ‘al-Qamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, ‘Amir al-Sya’bi, Hasan al-Basri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi. Ibnu Taimiyah berkata : “Adapun mengenai Ilmu tafsir, orang yang paling tahu adalah penduduk Mekkah, karena mereka sahabat Ibn Abbas, seperti Mujahid, ‘Ataa’ bin Abi Raba’ah, ‘Ikrimah maula Ibn Abbas dan sahabat-sahabat Ibn Abbas lainnya. Begitu juga penduduk Kufah dari sahabat Ibn Mas’ud; mereka itu mempunyai kelebihan dari ahli tafsir yang lain. Ulama penduduk Medinah dalam ilmu tafsir diantaranya adalah Zubair bin Aslam, Malik dan anaknya Abdurrahman serta Abdullah bin Wahab. Dan yang diriwayatkan dari mereka itu semua meliputi ilmu Tafsir, ilmu Ghariib al-Qur’an, ilmu Asbaab al-Nuzuul, ilmu Makki Wal Madani, dan ilmu Nasikh dan Mansukh. Tetapi semua itu tetap didasarkan pada riwayat dengan cara didiktekan.

Pada abad kedua hijriyah tiba masa pembukuan (tadwiin) yang dimulai dengan pembukuan hadist dengan segala babnya yang bermacam-macam; dan itu juga menyangkut hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka sebagian ulama membukukan tafsir al-Qur’an yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, dari para sahabat atau dari para tabi’in.

Diantara mereka itu, yang terkenal adalah Yazid bin Harun as-Sulami (wafat 117H), Syu’bah bin Hajjaj (wafat 160H), Waki’ bin Jarraah (wafat 197H), Sufyan bin ‘Uyainah (wafat 198), dan ‘Abdurrazzaq bin hammam (wafat 112H).

Mereka semua adalah para ahli hadist, sedangkan tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya, namun tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ke tangan kita.
Kemudian langkah mereka diikuti oleh segolongan ulama, mereka menyusun tafsir al-Qur’an yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yang paling terkenal diantara mereka adalah Ibn Jarir at-Tabari (wafat 310H).

Demikianlah tafsir pada mulanya dinukilkan (dipindahkan) melalui penerimaan (dari mulut ke mulut) dari riwayat, kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadist; selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran al-tafsir bil ma’tsur (berdasarkan riwayat), lalu diikuti oleh al-tafsir bi al-ra’yi (berdasarkan penalaran).
Disamping ilmu tafsir, lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan al-Qur’an, dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufasir.

Pada abad ketiga hijriyah, ada Ali bin al-Madani (wafat 234H), guru Bukhari, menyusun karangannya mengenai asbaabun nuzuul. Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (wafat 224H), menulis tentang Nasikh-Mansukh dan Qira’aat. Ibn Qutaibah (wafat 276H), menyusun tentang problematika al-Qur’an/ Musykilat al-Qur’an.

Pada abad keempat hijri, ada: Muhammad bin khalaf bin Marzaban (wafat 309H), menyusun al-Haawii fa ‘Uluumil Qur’an. Abu Muhammad bin Qasim al-Anbari (wafat 351H), juga menulis tentang ilmu-ilmu al-Qur’an. Abu Bakar al-Sijistani (wafat 330H), menyusun Ghariib al-Qur’an. Muhammad bin Ali al-Adfawi (wafat 388H) menyusun al-Istignaa’fi ‘Uluum al-Qur’an. Kemudian kegiatan karang-mengarang dalam hal ilmu ilmu al-Qur’an tetap berlangsung sesudah itu, seperti: Abu Bakar al-Baqalani (wafat 403H) menyusun I’jaz al-Qur’an. Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (wafat 430H) menulis mengenai I’raab al-Qur’an.  Al-Mawardi (wafat 450H) menyusun tentang tamsil-tamsil dalam Qur’an (Amtsaal al-Qur’an).  Al-‘Izz bin ‘Abdus Salam (wafat 660H) menyusun tentang majaz dalam Qur’an. ‘Alamuddin as-Sakhawi (wafat 634H) menulis mengenai ‘Ilmu Qira’at (cara membaca Qur’an) dan Aqsaaul Qur’an.

Setiap penulis dalam karangannya itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu al-Qur’an. Sedang pengumpulan hasil pembahasan dan bidang-bidang tersebut mengenai ilmu-ilmu al-Qur’an, semuanya atau sebagian besarnya dalam satu karangan, maka Syaikh Muhammad ‘Abdul ‘Aziim az-Zarqaani menyebutkan di dalam kitabnya Manaahilul ‘Irfan fi ‘Uluum al-Qur’an bahwa ia telah menemukan di dalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yang ditulis oleh Ali bin Ibrahim bin Sa’id yang terkenal dengan al-Hufi, judulnya al-Burhaan fi ‘uluum al-Qur’an yang terdiri atas tiga puluh jilid.

Pengarang membicarakan ayat-ayat al-Qur’an menurut tertib mushaf. Dia membicarakan ilmu-ilmu al-Qur’an yang dikandung ayat itu secara tersendiri, masing-masing diberi judul sendiri pula, dan judul yang umum disebut dengan al-Qaul fii Qaulihi ‘Azza wa Jalla (pendapat mengenai firman Allah ‘Azza wa Jalla). Kemudian di bawah judul ini dicantumkan: al-Qaul fil I’rab (pendapat mengenai morfologi), al-Qaul fil ma’naa wat Tafsir (pendapat mengenai makna dan tafsirnya), al-Qaul fil waqfi wat tamaam ( pendapat mengenai tanda berhenti dan tidak).
Sedangkan Qira’at diletakkan dalam judul tersendiri pula, yang disebut al-Qaul fil Qira’at (pendapat mengenai qira’at). Dan kadang ia berbicara tentang hukum-hukum dalam Qur’an. Dengan metode seperti ini, al-Hufi (wafat 330H) dianggap sebagai orang pertama yang  membukukan ‘Ulum al-Qur’an/ ilmu-ilmu Qur’an. Meskipun pembukuannya memakai cara tertentu seperti yang disebut diatas.

Kemudian penulisan buku tentang ilmu-ilmu al-Qur’an terus berlanjut, seperti ada:
Ibnul jauzi (wafat 597H), dengan menulis sebuah kitab berjudul Funuunul Afnaan fi ‘Aja’ibi ‘Uluumil Qur’an. Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794H), menulis sebuah kitab lengkap dengan judul al-Burhaan fi ‘Uluumil Qur’an. Jalaluddin al-Balqini (wafat 824H) memberikan tambahan atas kitab al-Burhan di dalam kitabnya Mawaqi’ul ‘Uluum min Mawaaqi’in Nujuum. Jalaluddin as-Suyuti (wafat 911H), menyusun kitab yang terkenal al-Itqaan fi Uluumil Qur’an.
Kepustakaan ilmu-ilmu al-Qur’an pada masa kebangkitan modern tidaklah lebih kecil daripada nasib ilmu-ilmu yang lain.

Orang-orang yang menghubungkan diri dengan gerakan pemikiran islam telah mengambil langkah yang positif dalam membahas kandungan al-Qur’an dengan metode baru pula, seperti: Kitab I’jaazul Qur’an, yang ditulis oleh Mustafa Sadiq ar-Rafi’i.  Kitab al-Taswiirul Fanni fil Qur’an dan Masyaahidul Qiyaamah fil Qur’an, oleh Sayid Qutb.  Kitab Tarjamatul Qur’an oleh Muhammad Mustafa al-Maragi. Kitab Mas’alatu Tarjamatil Qur’an oleh Mustafa Sabri. Kitab al-Naba’ul ‘Aziim oleh Dr. Muhammad ‘Abdullah Daraz.  Kitab Mukaddimah tafsir Mahaasinut Ta’wil oleh Jamaluddin al-Qasimi. Kitab at-Tibyaan fi ‘uluumil Qur’an oleh Syaikh Tahir al-Jaza’iri. Kitab Manhajul Furqaan fi ‘Uluumil Qur’an oleh Syaikh Muhammad ‘Ali Salamah. Kitab Manaahilul ‘irfan fi ‘Uluumil Qur’an oleh Muhammad ‘Abdul ‘Azim az-Zarqani. Kitab Muzakkiraat ‘Uluumil Qur’an oleh Syaikh Ahmad ‘Ali. Dan akhirnya muncul Kitab Mabaahits fi ‘Uluum al-Qur’an oleh Dr. Subhi as-Salih. Juga diikuti oleh Ustadz Ahmad Muhammad Jaml yang menulis beberapa studi sekitar masalah “Maa’idah” dalam al-Qur’an. Pembahasan-pembahasan tersebut diatas dikenal dengan sebutan ‘ULUUMUL QUR’AN, dan kata ini telah menjadi istilah atau nama khusus bagi ilmu-ilmu tersebut.
III. RUANG LINGKUP ULUM AL-QUR’AN

Dari uraian diatas tersebut tergambar bahwa Ulum al-Qur’an adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan membahas al-Qur’an. Subhi al-Shalih lebih lanjut menjelaskan bahwa para perintis ilmu al-Qur’an adalah sebagai berikut:
Dari kalangan sahabat nabi, dari kalangan tabi’in di madinah, dari kalangan tabi’ut tabi’in (generasi ketiga kaum muslimin) dan dari generasi-generasi setelah itu. Para ulama mufasir dari semua kalangan dan generasi-generasi yang tercakup dalam lingkup Uluum al-Qur’an menafsirkan Qur’an selalu berpegang pada:

1). Al-Qur’an al-Karim

Sebab apa yang yang dikemukakan secara global di satu tempat/ ayat dijelaskan secara terperinci di tempat/ ayat yang lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah yang dinamakan “Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an”.

2). Hadits Nabi SAW

Mengingat beliaulah yang bertugas untuk menjelaskan al-Qur’an, karena itu wajarlah kalau para sahabat bertanya kepada beliau ketika mendapatkan kesulitan dalam memahami sesuatu ayat. Diantara kandungan al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat diketahui ta’wilnya kecuali melalui penjelasan Rasulullah, misalnya rincian tentang perintah dan larangan-Nya serta ketentuan mengenai hukum-hukum yang difardhukan-Nya.

3). Para Sahabat

Mengingat para sahabatlah yang paling dekat dan tahu dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW maka riwayat dari para sahabat yang berasal dari Rasulullah SAW cukup menjadi acuan dalam mengembangkan ilmu-ilmu al-Qur’an. Dan yang cukup banyak menafsirkan Qur’an seperti empat orang khalifah dan para sahabat lainnya.

4). Pemahaman dan Ijtihad

Apabila para sahabat tidak mendapatkan tafsiran dalam al-Qur’an dan tidak pula mendapatkan sesuatupun yang berhubungan dengan hal itu dari Rasulullah, dan banyak perbedaan-perbedaan dari kalangan sahabat maka mereka melakukan ijtihad dengan mengerahkan segenap kemampuan nalar. Ini mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab, memahaminya dengan baik dan mengetahui aspek-aspek yang ada di dalamnya. Pada masa kalangan sahabat, tidak ada sedikit pun tafsir/ ilmu-ilmu tentang al-Qur’an yang dibukukan, sebab pembukuan baru dilakukan pada abad kedua hijriyah. Masa pembukuan dimulai pada akhir dinasti Bani Umayah dan awal dinasti Abbasiyah.
IV. CABANG CABANG ULUM AL-QUR’AN

Secara garis besar Ulumul Qur’an terbagi dua, yaitu: Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu qira’at, tempat turunnya ayat-ayat al-qur’an, waktu turunnya, dan sebab-sebabnya. Dan ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara mendalam seperti memahami lafal yang gharib (asing pengertiannya) serta mengetahui makna ayat yang berhubungan dengan hukum.

Tujuan mempelajari ulum al-Qur’an ini adalah untuk memperoleh keahlian dalam meng-istinbath hukum syara’, baik mengenai keyakinan atau i’tiqad, amalan, budi pekerti, maupun lainnya. Cabang-cabang dari ulum al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1)      Ilmu Mawathin al-Nuzul yaitu : ilmu yang menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awal dan akhirnya.

2)      Ilmu Tawarikh al-nuzul yaitu : ilmu yang menerangkan dan menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya, satu demi satu dari awal turun hingga akhirnya, dan tertib turunnya surat dengan sempurna.

3)      Ilmu Asbab al-nuzul yaitu : ilmu yang menerangkan sebab- sebab turunnya ayat.

4)       Ilmu Qira’at yaitu : ilmu yang menerangkan rupa-rupa Qira’at (bacaan al-Qur’an yang diterima dari Rasulullah SAW).

5)      Ilmu tajwid yaitu : ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur’an, tempat mulai dan pemberhentiannya.

6)      Ilmu Gharib al-Qur’an yaitu : ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini menerangkan makna-makna kata yang halus, tinggi, dan pelik.

7)      Ilmu I’rab al-Qur’an yaitu : ilmu yang menerangkan baris al-Qur’an dan kedudukan lafal dalam ta’bir ( susunan kalimat ).

8)      Ilmu Wujuh wa al-nazhair yaitu : ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur’an yang banyak arti, menerangkan makna yang dimaksud pada satu-satu tempat.

9)       Ilmu Ma’rifat al-Muhkam wa al-Mutasyabih yaitu : ilmu yang menyatakan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat ayat yang dianggap mutasyabih.

10)  Ilmu Al-Nasikh wa al-Mansukh yaitu : ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufasir.

11)  Ilmu Bada’i al-Qur’an yaitu : ilmu yang membahas keindahan-keindahan al-Qur’an, ilmu ini menerangkan kesusastraan al-Qur’an, kepelikan, dan ketinggian balaghah-nya.

12)   Ilmu I’jaz al-Qur’an yaitu : ilmu yang menerangkan kekuatan susunan tutur al-Qur’an, sehingga ia dipandang sebagai mukjizat.

13)   Ilmu Tanasub Ayat al-Qur’an yaitu: ilmu yang menerangkan persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

14)  Ilmu Aqsam al-Qur’an yaitu: ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di al-Qur’an.

15)  Ilmu Amtsal al-Qur’an yaitu : ilmu yang menerangkan segala perumpamaan yang ada dalam al-Qur’an.

16)  Ilmu Jidal al-Qur’an yaitu : ilmu untuk mengetahui bentuk-bentuk debat yang dihadapkan al-Qur’an kepada kaum musyrikin dan lainnya.

17)  Ilmu Adab al-Tilawah al-Qur’an yaitu: ilmu yang mempelajari segala bentuk aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan dalam membaca al-Qur’an. Segala kesusilaan, kesopanan, dan ketentuan yang harus dijaga ketika membaca al-Qur’an.

18)  Dan ilmu-ilmu lain yang membahas tentang al-Qur’an.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ulumul Hadits

Pengertian Ulumul Hadits

¢  Kata ‘ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti “ilmu-ilmu”; sedangkan al-hadist di kalangan Ulama Hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan, perkataan, taqir, atau sifat.” dengan demikian, gabungan kata ‘ulumul-hadist mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan Hadis nabi SAW”.

¢  (Mahmud al-Thahhan, Taisir Mushthalah al-Hadist, Beirut: Dar Al-qur’an al-karim, 1979, h.14)

CABANG-CABANG ULUMUL HADITS

¢  Kajian llmu Hadis. Secara garis besar ulama hadis mengelompokkan ilmu-ilmu yang bersangkut-paut dengan hadis Nabi SAW tersebut ke dalam dua bidang pokok, yakni ilmu hadis riwayah

( ‘ilm al-Hadis riwayah) dan ilmu hadis dirayah ( ‘ilm al-Hadis dirayah).

Ilmu Hadis Riwayah. Ilmu yang mempelajari cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan hadis Nabi SAW. Objek kajiannya ialah hadis Nabi SAW dari segi periwayatan dan pemeliharaannya yang meliputi:

1)      cara periwayatannya, yakni bagaimana cara penerimaan dan penyampaian hadis dari seorang periwayat (rawi) kepada periwayat lain;

2)      cara pemeliharaan, yakni penghafalan, penulisan, dan pembukuan hadis. Ilmu ini tidak mem-bicarakan kualitas sanad, sifat rawi, dan cacat yang terdapat pada matan dan lainnya.

Ilmu hadis riwayah bertujuan untuk memelihara hadis Nabi SAW dari kesalahan dalam proses periwayatan atau dalam hal penulisan dan pembukuannya. Lebih lanjut ilmu ini juga bertujuan agar umat Islam menjadikan Nabi SAW sebagai suri teladan melalui pemahaman terhadap riwayat yang berasal darinya dan mengamalkannya. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab (33) ayat 21 yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu

Ilmu Hadis Dirayah

Ibn al-Akfani memberikan Ilmu Hadis Dirayah sebagai berikut:  Ilmu Hadis yang khusus tentang Dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya (Lihat al-Suyuthi, Tadrb al-Rawi h. 40; Lihat juga al-Qasimi, Qawa’id al-Tahdits, h.75.)

Uraian dan elaborasi dari definisi di atas diberikan oleh Imam al-Suyuthi, sebagai beikut: Hakikat riwayat, adalah kegiatan sunah (Hadis) dan penyandaran kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdits, yaitu perkataan seorang perawi “haddatsana fulan”, (telah menceritakan kepada kami si Fulan), atau Ikhbar, seperti perkataannya “akhbarana fulan”, (telah mengabarkan kepada kami si Fulan). (al-suyuthi. Tadrib al-Rawi, h. 40.)

Dalam hubungannya dengan pengetahuan tentang hadis, ada ulama yang menggunakan bentuk ‘ulum al-hadis, seperti Ibnu Salah (ahli hadis; w. 642 H/1246 M) dalam kitabnya ‘Ulum al-hadis, dan ada juga yang menggunakan bentuk ‘ilm al-hadis, seperti Jalaluddin as-*Suyuti dalam mukadimah kitab hadisnya Tadris al-Rawiy. Penggunaan bentuk jamak disebabkan ilmu tersebut bersangkut-paut dengan hadis Nabi SAW yang banyak macam dan cabangnya. Hakim an-Naisaburi (321 H/933 M-405 H/1014M), misalnya, dalam kitabnya Ma’rifah ‘Ulum al-Hadis mengemukakan 52 macam ilmu hadis. Muhammad bin Nasir al-Hazimi, ahli hadis klasik, mengatakan bahwa jumlah ilmu hadis mencapai lebih dari 100 macam yang masing-masing mempunyai objek kajian khusus sehingga bisa dianggap sebagai suatu ilmu tersendiri.

Cabang-cabang yang berkaitan dengan sanad dan rawi


1) ‘Ilm rijal al-hadis, yakni ilmu yang mengkaji keadaan para rawi hadis dan peri kehidupan mereka, baik dari kalangan sahabat, tabiin maupun tabi’ al-tabi’in, dan generasi sesudahnya. Bagian dari ‘ilm rijal al-hadis ini adalah ‘ilm tarikh rijal al-hadis. Ilmu ini secara khusus membahas perihal para rawi hadis dengan penekanan pada aspek-aspek tanggal kelahiran, nasab atau garis keturunan, guru sumber hadis, jumlah hadis yang diriwayatkan, dan murid-muridnya.

Di antara kitab-kitab terkenal dalam cabang ilmu hadis ini ialah al-Isti’ab fi Ma’rifah al- Ashab karya Ibnu Abdul Bar (w. 463 H), al-Isab fi Tamyiz as-Sahab dan Tahzib at- Tahzib karya Ibnu Hajar al-Asqalani, serta Tahzib al-Kamal karya Abul Hajjaj Yusufbin az-Zakki al-Mizzi (w. 742 H).

2. ‘Ilm al-jarh wa at-ta’dil,

Yakni ilmu yang membahas hal ihwal rawi dengan menyoroti kesalehan dan kejelekannya, sehingga dengan demikian periwayatannya dapat diterima atau ditolak. Muhammad Ajaj al-Khatib, ahli hadis kontemporer dari Suriah, mengelompokkan sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat tercela para periwayat masing-masing ke dalam enam tingkatan dan setiap tingkatan dilambangkan dengan istilah-istilah tertentu.

Untuk sifat-sifat terpuji digunakan istilah ausaq al-nas (orang yang paling dipercaya, baik kepribadian maupun hafalannya), la yus’al ‘anh (tidak perlu dipertanyakan lagi), siqah-siqah (tepercaya kuat), tsabat (kokoh), la ba’sa bih (tidak masalah) dan laisa bi ba’id min al-sawwab (tidak jauh dari kebenaran). Untuk sifat-sifat tercela digunakan istilah akzab al-nas (manusia paling pendusta), muttaham kazib (suka berdusta), muttaham bi al-kazib (dituduh berdusta). la yuktab hadisuh (tidak perlu ditulis hadisnya), la yuhtajj bih (tidak dapat dijadikan hujah), dan fihi maqal (dipertanyakan). Untuk periwayat yang memiliki sifat terpuji hadisnya dapat diterima dengan peringkat kehujahan sesuai dengan peringkat sifat terpuji yang dimilikinya. Sebaliknya, periwayat yang memiliki sifat tercela hadisnya ditolak dengan peringkat penolakan sesuai dengan peringkat sifat jelek yang dimilikinya.

Kitab-kitab terkenal dalam cabang ilmu hadis ini antara lain al-Jarh wa al-Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim ar-Razi (w. 328 H) dan al-Jarh wa at-Ta’di1 karya Muhammad Jamaluddin bin Muhammad bin Sa ‘id bin Qasim al-Qasimi.

3) ‘Ilm ‘ilal al-hadis

Yakni ilmu yang membahas perihal cacat tersembunyi yang mungkin terdapat dalam suatu hadis yang keberadaannya dapat menjatuhkan nilai hadis yang secara lahir tampak sahih. Misalnya, hadis yang tampak muttasil (hadis yang sanadnya menyambung sampai kepada Nabi SAW atau sahabat) setelah diteliti lebih jauh ternyata munqati’ (hadis yang salah seorang periwayatnya gugur tidak pada sahabat, tetapi bisa terjadi pada periwayat yang di tengah atau di akhir) .Untuk dapat mempelajari cacat tersembunyi ini diperlukan penguasaan ilmu ‘ilm ‘ilal al-hadis secara mendalam karena masalah yang menjadi objek kajiannya lebih rumit.

Kitab-kitab terkenal di cabang ini di antaranya ‘1lal al-Hadis oleh Ibnu Abi Hatim ar-Razi, al- ‘I1al oleh Imam at-Tirmizi, dan al- ‘I1al al-Mutananiyah fi al-Ahadis al-Wahiyah oleh Ibnu al-Jauzi (510-97 H).

4)      ‘Ilmu garib al-hadis

Yakni ilmu yang membahas masalah kata atau lafal yang terdapat pada matan hadis yang sulit dipahami, baik karena kata atau lafal tersebut jarang sekali dipakai, nilai sastranya yang tinggi, maupun karena sebab yang lain. ‘I1m garib al-hadis ini mempunyai arti penting dalam memahami maksud hadis dengan baik dan tepat karena sering kali suatu lafal tidak dapat dipahami sesuai dengan maknanya yang umum dikenal (makna lahiriyah) sehingga harus dipahami dengan makna tersendiri agar maksud yang dituju oleh hadis tersebut dapat diungkap dengan baik dan tepat. Ilmu inilah yang mengantarkan seseorang untuk dapat menemukan makna yang tepat tersebut.

Ulama perintis di bidang ini adalah Abu Ubaidah Ma’mar bin Mussana at- Taimi (w. 210 H) dan kemudian Abu al-Hasan an-Nadr bin Syunail al-Mazini (w. 203 H). Keduanya telah menulis kitab tentang garib al-hadis. Namun, Muhammad Adib Salih (ahli hadis kontemporer dari Suriah) mengatakan bahwa kitab tersebut merupakan kitab kecil dan banyak masalah yang belum terdapat di dalamnya. Kitab yang terkenal ialah al-Fa’iq fi Gharib al-Hadis karya Abu Kasim Mahmud bin Umar al-Zamakhsyari dan al-Nihayah fi-Gharib al-Hadis karya Majduddin Abu as-Sa ‘adah al-Mubarak bin Muhammad yang terkenal dengan nama Ibnu Asir (544-606H).

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Hadits Tarbawi

HADITS TARBAWI

Nama Mata Kuliah : Hadits Tarbawi
Kode Mata Kuliah : Tar.116
Jumlah SKS : 2
Komponen : MKDK
Mata Kuliah Prasyarat : –
Semester : I (satu)

Diskripsi mata kuliah:

Jurusan Tarbiyah merupakan lembaga pendidikan guru yang bertugas membekali mahasiswanya agar dimasa yang akan datang dapat menjalankan profesinya secara benar berdasarkan ajaran Rosullullah saw. yang tertulis dalam hadits – hadits shohih.

Kedudukan sebagai guru / pendidikan akan menjadi panutan bagi lingkungannya baik secara pribadi maupun profesional. Karena itu guru / pendidikan perlu mempunyai pedoman dalam bertutur kata maupun berperilaku agar tidak mendapat sorotan negatif dari lingkungannya.

 

Standar Kompetensi

Mahasiswa memahami dan mengimplementasikan petunjuk – petunjuk Nabi Muhammad saw. berkenaan dengan tata cara bermuamalat dalam kaitannya menjalankan profesinya sebagai guru / pendidi di masa yang akan datang.

 

1.    Menghayati hadits tata cara pergaulan

 

3.1. Menjelaskan matan hadits ten-tang tata cara pergaulan

3.2.   Menerapkan    isi     hadits tentang tata cara per-gaulan dalam kehidupan sehari– hari.

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan perihal isi hadits tata cara pergaulan
 

  • Larangan berkhalwat
  • Pergaulan dengan ipar
  • Macam – macam zina bagi anggota tubuh
 

100’

LCD /OHP/Teks

–     BM 735

–     LM 1403

–     LM 1701

 

– Tes Essay

 

2.    Memahami hadits perihal nikah

 

4.1. Menjelaskan matan hadist ten-tang pernikahan.

4.2. Menjelaskan matan hadits peri-hal mahar dan wali

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan matan hadits tentang nikah, mahar dan wali
 

  • Nikah sebagai Sunnah Nabi
  • Anjuran Nikah
  • Larangan Nikah Mut’ah
  • Memilih calon istri
  • Mahar
  • Wali
 

2 x 100’

LCD / OHP / Teks

–     LM 885

–     LM 884

–     LM 889

–     BM 997

–     BM 1058

–     BM 1010

 

– Tes Essay

 

5. Mengerti hadits tentang tradisi

 

5.1. Menjelaskan hadits me-ngenai dorongan mencip-takan tradisi yang baik.

5.2.   Menjelaskan   hadits   ten-tang tra-disi mengikuti orang – orang terdahulu

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan matan hadits tentang tradisi

 

 

  • Dorongan menciptakan tradisi yang baik
  • Tradisi mengikuti orang – orang terdahulu
 

100’

LCD / OHP / Teks

–     RS 172

–     LM 1708

 

– Tes Essay

 

6. Memahami hadits pendi-dikan anak.

 

6.1. Menjelaskan hadits yang me-nganjurkan untuk menghindarkan diri dari dari kebosanan dalam pendidikan

6.2. Menjelaskan hadits bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.

6.3.   Menjelaskan hal  hal yang perlu dilakukan terhadap anak yang lahir.

 

  • Mengkaji dan diskusi tentang matan hadits, menghindari kebosanan dalam pendidikan, anak dilahirkan dalam keadaan fitrah dan hal – hal yang dilakukan orang tua terhadap anaknya yang lahir.
 

  • Menghindari kebosanan dalam pendidikan
  • Anak lahir atas dasar fitrah
  • Hal – hal yang dilakukan orang tua terhadap anaknya yang lahir.
 

100’

LCD / OHP / Teks.

–           LM 1798

 

–           LM 1702

–           LM: 1387, 1388

– Tes Essay
 

7. Memahami hadits perihal dakwah dan pengajaran.

 

7.1.   Menjelaskan   hadits   ten-tang dakwah dikalangan kaum wanita.

7.2.  Menjelaskan tata cara ber-dak-wah menurut hadits

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan matan hadits yang menjelas-kan dakwah nabi dikalangan wanita dan tata cara berdak-wah.
 

  • Dakwah dikalangan wanita
  • Tata cara dakwah
 

100’

LCD / OHP / Teks

–           LM. 1690

–           LM. 11, RS : 170. LM 1491, AN 101

– Tes Essay
 

8. Memahami hadits jihad fi sabilillah

 

8.1. Menjelaskan arti jihad fi sabilillah menurut hadits.

8.2.   Menjelaskan  motivasi   ji-had yang benar

8.3. Menjelaskan hal–hal yang termasuk jihad fi sabillillah

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan matan hadits yang menjelskan arti, motivasi dan hal – hal yang termasuk jihad fi sabilillah
 

  • Arti jihad fi sabilillah
  • Motivasi jihad fi sabilillah
  • Hal – hal yang termasuk jihad fi sabilillah
 

100’

OHP / LCD/ Teks

–           LM 1242

–           LM 1237, 1243

–           LM 1653, AN : 45

– Tes Essay
 

9.  Memahami  hadits   ten-tang pimpinan dan jabatan

 

9.1. Menjelaskan  tanggung  jawab pemimpin menurut hadits

9.2. Menjelaskan kedudukan pemimpin berdasarkan hadits.

9.3.  Menjelaskan     larangan mencari jabatan berdasar-kan hadits.

9.4.  Menjelaskan  batas  keta-atan terhadap pemimpin menurut hadits.

 

9.5. Menjelaskan wanita se-bagai ke-pala negara menurut  hadits.

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan matan hadits yang menjelas-kan tanggung jawab dan kedudukan pemimpin, larangan mencari jabatan, batas ketaatan terhadap pemimpin, dan wanita sebagai kepala Negara.
 

  • Tanggung jawab pemimpin
  • Kedudukan pemimpin
  • Larangan mencari jabatan
  • Batas ketaatan terhadap pemimpin
  • Wanita menjadi kepala negara
 

100’

OHP / LCD / Teks

LM : 499

LM : 1200

LM 1197, 1198

LM 1205, 1206

BM 1422

– Tes Essay
 

10. Memahami  hadits tentang hadiah dan suap

 

10.1   Menjelaskan   kebolehan memberi /menataq ha-diah menurut hadits.

10.2.  Menjelaskan     larangan menyuap berdasarkan hadits,

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan hadits yang menjelaskan kebolehan memberi hadian dan larangan menerima suap dan menyuap
 

  • Memberi / menerima hadiah
  • Larangan menerima / memberi sualp
 

100’

OHP / LCD / Teks

LM 1202

LM 1424, RS 180

– Tes Essay
 

11.  Mengkaji  hadits ten-tang kepedulian sosial

 

11.1.  Menjelaskan   hal – hal yang termasuk kepeduli-an sosial dan  balasan-nya dari Allah.

11.2.   Melaksanakan   aksi   ke-pedulian sosial

 

  • Mengkaji dan mendiskusikan hal – hal yang termasuk kepedulian sosial.
 

  • Hal – hal yang termasuk kepedulian sosial
 

100’

OHP / LCD / Teks

LM : 1682, AS 123,

LM: 1683, 1447, 1448

– Tes Essay

 

Keterangan:

LM : Al – lu’lu’ wal Marjun (Muhammad Fuad Abdul Baqi”)

BM : Bulughul Maram (Ibnu Hajar Al – Asqalani)

RS : Riyadlush Shalihin (Ibnu Hajar Al – Asqalani)

AN : Al – Adabun Nabi (Abdul ‘Azis Al – Khulli)

Ujian Hadits Tarbawi

1.  Pilih 5 dari 10 hadits!

2.  Artikan hadits tersebut dan apa pokok-pokok kandungan hadits yang dapat anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari?

 

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث:-1

صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

}  2-عن عبدالله بن عمروبن العاص رض الله عنه : عن النبي ص م قال: رضاالله في رضاالوالدين وسخط الله في سخط   الوالدين (خرجه البيهقي)

المسلمُ أخوالمسلم، لايخونه، ولايكذبه، ولايخذله-3

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ في رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ في أَثَرِهِ فَليَصِل رَحِمَه-4

أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما-5

اتق الله حيثما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن-6

7-صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان-8

9اليد العليا خير من اليد السفلى

تبسُّمك في وجه أخيك لك صدقة-10

Selamat mengikuti ujian, semoga sukses!

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tafsir Tarbawi

Tafsir Tarbawi
Nama Mata Kuliah : Tarfsir Tabawi
Kode Mata Kuliah : Tar.116
Jumlah SKS : 2
Komponen : MKDK
Mata Kuliah Prasyarat : –
Semester : II (dua) STAI YKI Padang
Dosen : A. Akbar, M. Ag

Kompetensi Mata Kuliah :
Mahasiswa mampu menghafalkan, memahami dan menerapkan dalam kehidupan ayat-ayat yang berkenaan dengan manusia, agama dan pendidikan.
Kompetensi Mata Kuliah :
Mahasiswa mampu menghafalkan, memahami dan menerapkan dalam kehidupan ayat-ayat yang berkenaan dengan manusia, agama dan pendidikan.

Deskripsi Mata Kuliah :
Mata Kuliah ini meliputi kajian tentang : Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia (muslim), Tujuan Hidup Manusia, Keunggulan manusia dari makhluk lainnya, Kelemahan manusia, Percaya diri dan tidak putus asa, Hukum Sejarah dan perubahan sosial, Kewajiban belajar mengajar, Tujuan Pendidikan, Subyek pendidikan, Objek Pendidikan, Metode Pengajaran.

Materi/Topik :
1. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia (muslim)

– Q.S. al-An’am (6) ayat 91 – 92 org yg beriman dengan hari akhir mereka yakin dan dgn sholat mrk mrk jaga
 – Q.S. al-Baqarah (2) ayat 1 – 5, 97 sholat, zakat, qur’an, akhirat
– Q.S. Ali Imran (3) ayat 7 dan 167
Kami beriman dengan seluruh ayat termasuk mutasyabihat
– Q.S. al-Isra (17) ayat 9 dan 82
Qur’an br petunjuk ke jln yg lbh lurus
2. Tujuan Hidup Manusia
– Q.S. al-Dzariyat ayat 51 dan 56, ibadah
– Q.S. al-Baqarah (2) ayat 201, 207 – 209 kebaikan dunia akhirat
– Q.S. al-Mu’minun (23) ayat 115 – 116 kembali pada AllahXbukan sekedar permainan (menyembah Tuhan)
3. Keunggulan manusia dari makhluk lainnya
– Q.S. al-Baqarah (2) ayat 30 – 39 khalifah
– Q.S. al-Isro (17) ayat 70àdilebihkan dr makhluk lain, angkutan darat laut, rezki yg baik-baik-wawau
– Q.S. al-Rad (13) ayat 11à dijaga malaikat muka belakang

4. Kelemahan manusia
– Q.S. al-Maarij (70) ayat 19 – 27 keluh kesah-kesusahan, kebaikan-kikir
– Q.S. al-Rum (30) ayat 54, DHA’IF
– Q.S. al-Ahzab (33) ayat 72à zalim, jahil (bodoh)
 – Q.S. al-Balad (190) ayat 4 – 8àkeluh kesah
– Q.S. al-Nisa (4) ayat 28 – 29àdhaif
5. Percaya diri dan tidak putus asa
Q.S. al-Baqarah (2) ayat 223àkabar gembira beriman
 – Q.S. al-Zalzalah (99) ayat 1 – 8
– Q.S. Ali Imran (3) ayat 82àberpaling=fasik pada Allah berserah diri
– Q.S. Yusuf (12) ayat 87àSyu’aib-Yusuf jangan putus asa=kafir
– Q.S. Al-Hijr (15) ayat 56àputus asa sesat=Ibrahim tua dapat anak

6. Hukum Sejarah dan perubahan sosial
– Q.S. al-Isra (17) ayat 76 – 77àsunatina tahwila
– Q.S. al-Ahzab (33) ayat 38 dan 62à takdir Allah pasti terjadi haroj=terlaknat, ditangkap, dibunuh
– Q.S. al-Fathir (35) ayat 43àkesombongan & rencana jahat timpa diri sendiri
– Q.S. al-Maidah (5) ayat 78 – 81àbani israil dilaknat karena tdk amar ma’ruf nahi mungkar dan tolong menolong dgn orang kafir
– Q.S. al-Anfal (8) ayat 53àAllah tdk akan merubah nasib suatu kaum
– Q.S Muhammad (47) ayat 38àbakhil diganti umat lain
7. Kewajiban belajar mengajar
Q.S. al-Alaq (96) ayat 1 – 5àiqro’
 Q.S. al-Ghasyiyah ayat 88 lihat unta dicipta, langit ditgkan,gunung ditegakkan, bumi dihamparkan
 Q.S. Ali Imran (3) ayat 190 – 191àtanda kebesaran Allah
– Q.S. al-Taubah (9) ayat 122àliyunziro qaumahum
– Q.S. al-Ankabut (29) ayat 19 – 20à Allah mudah bikin manusia, siru fil ard

8. Tujuan Pendidikan
– Q.S. Ali Imran (3) ayat 138 – 139àpenerang, petunjuk, pelajaran, lemah, sedih, iman plg tinggi derajatnya
– Q.S. al-Fath (48) ayat 29àkeras thd kafir, sayang muslim, ruku’ sujud, bekas sujud, senang guru, jengkel kafir
– Q.S. al-Hajj (22) ayat 41àkedudukan teguh, sholat, zakat, amar ma’ruf nahi mungkar
 – Q.S. al-Zariyat (51) ayat 56àibadah
– Q.S. Hud (11) ayat 61àsembah Tuhan

9. Subyek pendidikan- Q.S. al-Rahman (55) ayat 2 Allah Ajarkan Qur’an
– Q.S. al-Najm (53) ayat 5 – 6 Jibril sangat kuat dan akal yg cerdas
 – Q.S. Kahfi (18) ayat 66 Nabi Musa-Khidir,”Boleh ikut supaya bisa ajarkan padaku ilmu yg benar”.
– Q.S. al-Nahl (16) ayat 43 – 44 Bertanya pd ahli zikir jk tidak tahu
10. Objek Pendidikan
– Q.S. al-Tahrim (66) ayat 6àdiri, keluarga
– Q.S. al-Syuara (26) ayat 214àkerabat terdekat
– Q.S. al-Taubah (9) ayat 122àkaum
– Q.S. al-Nisa (4) ayat 170àmanusia seluruhnya

11. Metode Pengajaran
– Q.S. al-Maidah (5) ayat 67àtabligh
 – Q.S. al-Nahl (16) ayat 125àhikmah, mau’izoh, mujadalah
– Q.S. al-A’raf (7) ayat 176 – 177àhalau, biarkan
– Q.S. Ibrahim, 14 – 25àpenanaman,peniruan, kristalisasi akar=aqidah, cabang=ibadah, buah=akhlak
Buku Sumber :
1. MM. Al-Hijazi, Tafsir al-Wadhih
2. Musthafa Al-Maraghi
3. Al-Zamakhsari, Tafsir al-kasyaf
4. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adzim
5. Al-Tabari, Jami Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an
6. Al-Alusi, Ruh al-Maani
7. Al-Qurtubi, Al-Jumi li Ahkam Al-Qur’an
8. Sayyid Quthb, Fi Dzilal Al-Qur’an
 9. Hamka, Tafsir Al-Azhar
10. Depag. RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya .

Ujian Tafsir Tarbawi
1. Pilih 5 dari 10 ayat!
2. Artikan ayat tersebut, ayat di atas berhubungan dengan apa dalam dunia pendidikan dan apa manfaatnya bagi anda dalam kehidupan sehari-hari?

-1ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين
الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2)-2
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ-3
-4لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ-5
-6إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً-7

-وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ8
9-ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا-10
Selamat mengikuti ujian, semoga sukses!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

METODOLOGI STUDI ISLAM 1



UJIAN METODOLOGI STUDI ISLAM 1

Nomor ganjil untuk kelompok A, nomor genap untuk kelompok B!

Jangan lupa menulis nama dan kelompok soal di kertas lembar jawaban!

1. Pengertian Skripsi adalah?

2. Jika Anda masih ada nilai D atau E, IP Kumulatif semester dibawah 2.00 apakah sudah boleh menulis skripsi? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Pendidikan | Meninggalkan komentar